Perkuat Kepemimpinan Perempuan, Laura Irawati Dorong Transformasi Koperasi dan UMKM di Banten


CILEGON – Integrasi koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu strategi penting dalam memperkuat ekonomi kerakyatan dan mendorong kemandirian bangsa. Upaya tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menempatkan penguatan ekonomi desa, koperasi, dan usaha rakyat sebagai bagian penting pembangunan nasional.

Berbagai program pemerintah, mulai dari dukungan pembiayaan bagi pelaku usaha, penguatan Koperasi Desa Merah Putih, digitalisasi layanan UMKM, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG), membuka peluang bagi koperasi dan UMKM untuk meningkatkan kapasitas usaha serta memperluas akses pasar.

Di Provinsi Banten, potensi UMKM yang besar menjadi peluang untuk memperkuat ekonomi masyarakat, khususnya perempuan yang memiliki peran penting dalam menggerakkan usaha mikro dan kecil. Karena itu, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, koperasi, pelaku usaha, dan sektor industri agar potensi tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.

Salah satu upaya penguatan ekosistem tersebut dilakukan melalui Pusat Inkubator Wirausaha dan Klinik UMKM (PIWKU) Banten. Laura Irawati, yang dikenal sebagai penggiat ekonomi, konsultan UMKM, dan aktivis koperasi di Banten, memiliki rekam jejak dalam mendorong integrasi koperasi dan UMKM.

Sejak 2015, Laura merintis pembentukan Koperasi Perempuan Sejahtera Mandiri (KPSM) di Kota Cilegon. Dalam kapasitasnya sebagai Direktur PT PIWKU Banten saat itu, ia mendorong penggabungan pengembangan koperasi dan UMKM dalam satu ekosistem inkubasi bisnis.

Melalui pendekatan tersebut, pelaku usaha didorong memperoleh pendampingan dalam pengurusan legalitas, peningkatan kualitas produk, penguatan kapasitas usaha, hingga perluasan akses pemasaran. Kolaborasi juga dibangun dengan melibatkan pemerintah, akademisi, komunitas, dan sektor industri.

Laura menilai, pengembangan UMKM perempuan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan permodalan, tetapi harus disertai pendampingan yang berkesinambungan.

“UMKM perempuan tidak boleh hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri. Mereka harus diberikan kesempatan, pendampingan, dan akses pasar agar mampu tumbuh menjadi pelaku usaha yang mandiri dan berdaya saing. Bantuan modal memang penting, tetapi harus diimbangi dengan penguatan mentalitas kewirausahaan, literasi keuangan, peningkatan kualitas produk, serta pengelolaan usaha yang baik,” ujar Laura.

Menurutnya, koperasi dapat menjadi wadah strategis untuk memperkuat posisi pelaku UMKM melalui kerja sama, peningkatan kapasitas anggota, dan pengembangan pemasaran bersama. 

Dengan sistem koperasi yang sehat, pelaku usaha diharapkan mampu meningkatkan skala bisnis sekaligus memperluas jangkauan pasarnya.

Konsistensi Laura dalam mengembangkan KPSM terus berlanjut hingga saat ini melalui perannya sebagai Dewan Pengawas sejak 2015. Sementara itu, kepemimpinan operasional koperasi dipercayakan kepada Aliatun Nasiroh selaku Ketua KPSM.

Selain aktif dalam pengembangan koperasi perempuan, Laura juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Dekopinwil Banten serta berperan sebagai pemandu dan trainer di Lembaga Pendidikan Perkoperasian (LAPENKOP) Banten.

Di tingkat regional, ia turut berkiprah sebagai Wakil Ketua Bidang UMKM dan Koperasi HIPPI Banten. Peran tersebut menjadi bagian dari upayanya mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha, memperkuat jaringan kemitraan, serta membuka peluang pengembangan usaha di berbagai sektor, termasuk sportpreneur melalui program Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Laura juga menekankan pentingnya optimalisasi pengadaan barang dan jasa pemerintah maupun kebutuhan industri lokal untuk membuka peluang lebih besar bagi produk koperasi dan UMKM.

“Koperasi dan UMKM harus menjadi bagian dari rantai pasok ekonomi daerah. Produk-produk lokal yang dihasilkan para pelaku usaha, termasuk UMKM perempuan, perlu mendapatkan kesempatan untuk masuk ke pasar pemerintah dan industri. Dengan begitu, perputaran ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha lokal,” tambahnya.


Komitmen terhadap penguatan koperasi juga tercermin dalam karya ilmiah internasional berjudul “Dramaturgy of Women's Leadership Using Facebook Social Media (Case Study: Independent Prosperous Women's Cooperative in Cilegon City, Banten Province)”.

Karya tersebut disusun secara kolaboratif oleh Laura Irawati, Alfred Inkiriwang, Larasati Simatupang, dan Marisi Pakpahan. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan media sosial Facebook oleh pengurus KPSM sebagai instrumen komunikasi dan kepemimpinan organisasi.

Melalui pendekatan dramaturgi ruang digital, penelitian tersebut membahas bagaimana media sosial dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk pemasaran, tetapi juga untuk membangun citra organisasi, menjaga kepercayaan publik, memperkuat hubungan dengan para pemangku kepentingan, dan mengatasi keterbatasan interaksi secara langsung.

Pemanfaatan teknologi digital dinilai semakin penting bagi koperasi dan UMKM untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman sekaligus memperluas jaringan usaha.

Penguatan ekosistem koperasi dan UMKM di Banten juga membutuhkan dukungan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Sekretaris Daerah Provinsi Banten Deden Apriandhi Hartawan, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Banten Agus Mintono, Ketua Bidang Diklat Dekopinwil Banten Laura Irawati, serta Ketua LAPENKOP Banten Tuti Alawiyah.

Kolaborasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat pendidikan perkoperasian, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membuka akses yang lebih luas bagi koperasi dan UMKM untuk berkembang.

Melalui integrasi koperasi dan UMKM, penguatan kepemimpinan perempuan, serta pemanfaatan teknologi digital, model pengembangan KPSM di Kota Cilegon diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Langkah ini sekaligus mempertegas bahwa koperasi dan UMKM memiliki peran strategis dalam membangun ekonomi rakyat yang inklusif, mandiri, dan berkelanjutan.
SPONSOR
Lebih baru Lebih lama